Teknologi

Etika kerja Dalam Tinjauan Riset Gallup Soal Quiet Quitting

πŸ“… 9 September 2026⏱ 3 menit baca✍️ Tim Redaksi STIA YPA-AH MAKASSAR
Etika kerja Dalam Tinjauan Riset Gallup Soal Quiet Quitting

Pernah dengar istilah quiet quitting? Bukan berarti orang benar-benar berhenti kerja. Karyawan ini tetap datang tepat waktu, mengerjakan tugasnya, tidak pernah membangkang. Tapi ia hanya mengerjakan persis apa yang diminta, tidak kurang, tidak lebih. Secara fisik ia hadir. Secara mental, ia sudah lama pergi.

Fenomena ini ternyata bukan gejala kecil. Gallup, lembaga riset yang setiap tahun mensurvei jutaan pekerja di seluruh dunia, merilis data terbarunya lewat laporan State of the Global Workplace 2026. Hasilnya hanya 20 persen pekerja di dunia yang benar-benar terlibat penuh dengan pekerjaannya, angka terendah sejak masa pandemi.

Sekitar 62 persen berada dalam kondisi "quiet quitting" hadir, tapi tidak benar-benar peduli. Sisanya, 16 persen, bahkan aktif tidak puas dengan pekerjaannya. Total kerugian ekonomi global akibat rendahnya keterlibatan kerja ini ditaksir mencapai 10 triliun dolar AS per tahun atau sekitar 9 persen dari seluruh produk domestik bruto dunia.

Yang menarik, angka ini turun justru di saat perusahaan-perusahaan berlomba memasang teknologi produktivitas paling canggih dari dashboard kinerja sampai asisten kerja berbasis AI. Ada banyak alat untuk membuat orang bekerja lebih cepat. Tapi hampir tidak ada yang dirancang untuk membuat orang merasa pekerjaannya berarti.

Lebih dari 170 tahun lalu para tokoh menjelaskan gejala semacam ini, jauh sebelum istilah "quiet quitting" ada. Ia menyebutnya alienasi kerja atau keterasingan kerja. Dalam sistem kerja modern, seorang pekerja bisa merasa asing dengan empat hal sekaligus

Asing dari hasil kerjanya karena hasil kerjanya menjadi milik perusahaan bukan miliknya. Asing dari proses kerjanya karena bagaimana ia bekerja diatur oleh orang lain bukan dirinya sendiri. Asing dari rekan kerjanya karena sesama pekerja justru bersaing, bukan bekerja sama. Asing dari dirinya sendiri sebagai manusia karena kerja seharusnya menjadi cara manusia berkarya dengan bebas, bukan sekadar rutinitas untuk bertahan hidup.

Dulu, gejala ini terlihat jelas di pabrik, buruh berdiri berjam-jam mengulang satu gerakan yang sama, tanpa tahu produk yang ia buat akan dipakai siapa. Sekarang, bentuknya berubah tapi intinya mirip. Seorang karyawan mengisi laporan yang dibaca orang yang tidak pernah ia temui, untuk keputusan yang tidak pernah ia ikut tentukan.

Dilihat dari sudut pandang ini, quiet quitting bukan soal malas. Ia lebih seperti cara paling pelan yang dimiliki seseorang untuk menarik diri dari sistem yang sejak awal tidak benar-benar memberinya ruang.

Manusia Butuh Makna Lebih Dari Sekedar Gaji Yang Diyakini Sebagai Pemantik Utama

Kenapa gaji yang layak saja tidak cukup untuk membuat orang benar-benar terlibat dengan pekerjaannya? Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz. Dalam bukunya Man's Search for Meaning, Frankl menulis bahwa dorongan paling mendasar manusia bukanlah mencari kesenangan atau kekuasaan melainkan mencari makna. Bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun, manusia bisa bertahan bukan karena keadaannya membaik, tapi karena ia menemukan alasan untuk terus melangkah.

Menariknya, alat yang dipakai Gallup untuk mengukur "keterlibatan kerja" seseorang, dua belas pertanyaan yang dikenal sebagai Gallup Q12 sebenarnya sejalan dengan gagasan Frankl. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan hanya soal "apakah gaji anda cukup", tapi juga apakah pendapat anda didengar, apakah anda punya kesempatan berkembang dan apakah pekerjaan anda terasa penting. Semua itu adalah pertanyaan tentang makna bukan tentang uang.

Ketika sebuah perusahaan bisa membayar gajinya dengan baik, tapi tetap kehilangan 80 persen karyawannya secara mental, itu artinya perusahaan tersebut sudah menyelesaikan "urusan memberi upah" tapi belum menyentuh "urusan memberi makna"

Melihat paradoks yang sebenarnya sedang direkam oleh data Gallup, dunia kerja hari ini tidak kekurangan hasil kerja. Yang menipis adalah alasan orang untuk peduli pada hasil kerja itu.

Selama ini, kebanyakan solusi yang ditawarkan perusahaan, bonus lebih besar, aplikasi produktivitas baru, pelatihan motivasi tahunan masih berputar pada bagaimana caranya membuat orang bekerja lebih keras. Sangat sedikit yang berani menjawab pertanyaan Frankl bagaimana caranya membuat orang merasa bahwa pekerjaannya, sekecil apa pun, benar-benar berarti bagi sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Penulis

Rifqah Ramdhana Jufri / Dosen Prodi Administrasi Negara

Sumber data: Gallup, State of the Global Workplace 2026.

Rujukan konsep: Karl Marx, Economic and Philosophic Manuscripts of 1844; Viktor Frankl, Man's Search for Meaning (1946).

Bagikan:WhatsApp← Semua Artikel